Kamis, 05 Mei 2011

Trematoda Hati..


Sejarah
Cacing ini pertama kali ditemukan oleh Mc Connell tahun 1874 di saluran empedu pada seorang Cina di Kalkuta.

Hospes dan Nama penyakit
Manusia, kucing, anjing, beruang kutub dan babi merupakan hospes parasit ini. Penyakit yang disebabkannya disebut Klonorkiasis.

Distribusi Geografik
Cacing ini ditemukan di Cina, Jepang, Korea, dan Vietnam. Penyakit yang ditemukan di Indonesia bukan infeksi autotokton.

Morfologi dan daur hidup

Cacing dewasa hidup di saluran empedu, kadang-kadang ditemukan di saluran pankreas. Ukuran cacing dewasa 10- 25 mm x 3-5 mm, bentuknya pipih, lonjong, menyerupai daun. Telur berukuran kira-kira 30 x16 mikron, bentuknya seperti bola lampu pijar dan berisi mirasidium, ditemukan dalam saluran empedu.
Telur dikeluarkan melalui tinja. Telur menetas bila dimakan keong air atau Bulinus, Semisulcospira. Dalam keong air, mirasedia lalu serkaria. Serkaria keluar dari keong air dan mencari hospes perantara dua, yaitu ikan ( famili Cyprinidae). Setelah menembus tubuh ikan, serkaria melepaskan ekornya dan membentuk kista di dalam kulit dibawah sisik. Kista ini disebut metaserkaria.
Perkembangan larva dalam keong air sebagai berikut:
M→S→R→SK
Infeksi terjadi dengan makan ikan yang mengandung metaserkaria yang dimasak kurang matang. Ekskistasi terjadi di duodenum. Kemudian larva masuk kedalam duktus koledokus, lalu menuju kesaluran empedu yang lebih kecil dan menjadi dewasa dalam waktu sebulan. Seluruh daur hidup berlangsung selama tiga bulan.


Patologi dan Gejala Klinis
Sejak larva masuk disaluran empedu sampai menjadi dewasa, parasit ini dapat menyebabkan iritasi saluran empedu dan penebalan diding saluran. Selain itu dapat terjadi perubahan jaringan hati berupa radang sel hati. Pada keadaan kebih lanjut dapat timbul sirosis hati disertai asites dan edema.
Luasnya organ yang mengalami kerusakan bergantung pada jumlah cacing yang terdapat di saluran empedu dan lamanya infeksi.
Gejala dapat dibagi menjadi 3 stadium. Pada stadiidak ditemukan gejala. Stadium progresifum ringan ditandai dengan menurunya nafsu makan, perut rasa penuh, diare, edema, dan pembesaran hati. Pada stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal yang terdiri atas pembesaran hati, ikterus, asites, edema, sirosis hepatis. Kadang-kadang dapat menimbulkan keganasan dalam hati.

Diagnosis
Diagnosis ditegakan dengan menemukan telur yang terbentuk khas dalam tinja atau dalm cairan duodenum.

Pengobatan
Penyakit ini dapat diobati dengan prazikuantel.

Epidemiologi
Kebiasaan makan ikan yang diolah kurang matang merupakan faktor penting dalam penyebaran penyakit. Selain itu cara pemeliharaan ikan dan cara pembuangan tinja di kolam ikan penting dalam penyebaraan penyakit.
Kegiatan pemberantasan lebih ditujukan untuk mencegah infeksi pada manusia. Misalnya penyuluhan kesehatan agar orang makan ikan yang sudah dimasak dengan b aik serat pemakaian jamban yang tidak mencemari air sungai.

Opistorchis felineus

Hospes dan Nama penyakit
Kucing, anjing dan manusia merupakan hospes parasit ini. Penyakit yang disebabkannya disebut opistorkiasis.

Distribusi Geografik
Parasit ini ditemukan di Eropa Tengah, Selatan dan Timur, Asia, Vietnam dan India.

Morfologi dan daur hidup
Cacing dewasa hidup dalam saluran empedu dan saluran pankreas. Ukuran cacing dewasa 7-12 mm ,mempunyai batil isap mulut dan perut. Bentuknya seperti lanset, pipih dorsoventral. Telur Opistrochis mirip telur C. Sinensis, hanya bentuknay lebih langsing.
Infeksi terjadi dengan makan ikan yang mengandung metaserkaria dan dimasak kurang matang.

Patologi dan Gejala Klinis
Kelainan yang ditimbulkan cacing ini sama dengan yang ditimbulkan C.sinensis.

Opistorchis viverrini

Daerah endemi ditemukan di Muangthai. Morfologi dan daur hidup cacing ini mirip Opistorchis felineus. Infeksi terjadi dengan makan ikan mentah yang mengandung metaserkaria.
Di daerah Muangthai timur laut ditemukan banyak penderita kolangiokarsinoma dan hepatoma pada penderita opistorkiasis. Hal ini diduga karena ada peradangan kronik saluran empedu. Selain itu berhubungan juga dengan cara pengawetan ikan yang menjadi hospes perantara O.viverrini.

Fasciola hepatica

Hospes dan Nama penyakit
Hospes cacing ini adalah kambing dan sapi. Kadang-kadang parasit ini ditemukan pada manusia. Penyakit yang ditimbulkan disebut fasioliasis.

Distribusi Geografik
Cacing ini ditemukan di Amerika Latin, Perancis dan negara-negara sekitar Laut Tengah banyak ditemukan kasus fasioliasis pada manusia.

Morfologi dan daur hidup
Cacing dewasa mempunyai bentuk pipih seperti daun, besarnya ± 30 x 13 mm. Bagian anterior berbentuk seperti kerucut dan pada puncak kerucut terdapat batil isap mulut yang besarnya ± 1 mm, sedangkan pada bagian dasar kerucut terdapat batil isap perut yng besarnya ±1,6mm. Saluran pencernaan bercabang-cabang sampai ke ujung distal sekum. Testis dan kelenjar vitelin juga bercabang-cabang.

Telur cacing ini berukuran 140-90 mikron, dikeluarkan melalui saluran empedu ke dalam tinja dalam keadaan belum matang. Telur menjadi matang dalam air setelah 9-15 hari dan berisi mirasidium. Telur kemudian menetas dan mirasidium keluar mencari keong air (lymnaea spp). Dalam keong air tejadi perkembangan:
M→S→R1→R2→SK
Serkaria keluar dari keong air dan berenang mencari hospes perantara II, yaitu tumbuh-tumbuhan air dan pada permukaan tumbuhan air membentuk kista berisi metaserkaria. Bila ditelan, metaserkaria menetas dalam usus halus binatang yang memakan tumbuhan air tersebut, menembus dinding usus dan bermigrasi dalam ruang peritoneum hingga menembus hati. Larva masuk ke saluran empedu dan menjadi dewasa. Baik larva maupun cacing dewasa hidup dari jaringan parenkim hati dan lapisan sel epitel saluran empedu.
Infeksi terjadi dengan makan tumbuhan air yang mengandung metaserkaria.


Patologi dan Gejala Klinis
Migrasi cacing dewasa muda ke saluran empedu menimbulkan kerusakan parenkim hati. Selama migrasi (face akut) dapat tidak bergejala atau menimbulkan gejala seperti demam, nyeri pada bagian kanan atas abdomen, hepatomegali, malaise, urtikaria, eosinofilia. Saluran empedu mengalami peradangan, penebalan dan sumbatan, sehingga menimbulkan sirosis periportal. Sekresi prolin oleh cacing dewasa diduga menjadi penyebab penebalan dinding saluran empedu. Migrasi cacing dewasa muda dapat terjadi di luar hati(ektopik) seperti pada mata, kulit, paru, otak. Gejala yang timbul tergantung pada organ tempat migrasi larva.
Diagnosis
Diagnosis ditegakan dengan menemukan telur yang terbentuk khas dalam tinja atau dalam cairan duodenum atau cairan empedu. Reaksi serologi (ELISA) sangat membantu untuk menegakkan diagnosis. Imunodiagnosis yang lebih sensitif dan spesifik-spesifik telah dikembangkan untuk mendeteksi antigen ekskretori-sekretori yang dikeluarkan parasit. Ultrasonogafi digunakan untuk menegakkan diagnosis fasioliasis bilier.

Pengobatan
Penyakit ini dapat diobati dengan Albendazol dan prazikuantel


Tidak ada komentar:

Posting Komentar